• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Autobot Menyerang Industri

SINDO WEEKLY

Himawan Wijanarko*

AUTOBOT diyakini akan menyerang Bumi. Bukan dengan cara perang seperti dalam film Transformer, tetapi mengganti komputer inteligensi tingkat rendah dan tenaga kerja kurang terampil dengan robot, automasi, dan mesin pembelajaran dalam tema Industri 4.0. Tema ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif. Industri 4.0 akan membantu meningkatkan efisiensi, meningkatkan mutu, meningkatkan ketangkasan, mendorong inovasi, memaksimalkan layanan pelanggan, dan mengurangi biaya. Ujung-ujungnya, pendapatan dan keuntungan perusahaan meningkat.

Agar tidak ketinggalan zaman, semakin banyak perusahaan yang mengadopsinya. Salah satunya adalah GKN Powder Metallurgy, produsen serbuk logam asal Inggris yang merupakan anak perusahaan GKN. GKN sendiri bergerak dalam bidang produksi alat-alat rekayasa.

Bagi GKN Powder Metallurgy, Industri 4.0 terkait dengan usaha mempertahankan keunggulan bersaing serta meningkatkan kepuasan pelanggan. GKN Powder Metallurgy menerapkan alat-alat pemrosesan data terkini serta mengimplementasikan teknologi inovatif guna mewujudkan cita-citanya dalam membangun budaya yang inovatif.

Paul Mairl, salah seorang eksekutif GKN Powder Metallurgy, mengatakan bahwa perusahaannya telah cukup lama melakukan digitalisasi dan peluncuran sistem global, jauh sebelum Industri 4.0 menjadi tren. Data dan keputusan bisnis berbasis data telah menjadi fokus serta budaya perusahaan. Secara resmi, GKN Powder Metallurgy memulai inisiatif Industri 4.0 pada 2015 berdasarkan pada teknologi yang telah tersedia seraya mengadopsi teknologi dan peluang-peluang baru.

Guna mencapai pemahaman bersama di antara karyawan dan eksekutif, pertama-tama dilakukan penelaahan terhadap teknologi yang tersedia serta teknologi yang sedang dikembangkan. Hal ini dilakukan lantaran terjadi kesenjangan pemahaman terkait teknologi terkini serta teknologi informasi secara keseluruhan. Untuk menutupi kesenjangan ini, perusahaan meminta bantuan pihak luar.

Berdasarkan pengalaman serta analisis yang mendalam, GKN Powder Metallurgy menyusun model bisnis digitalnya: sebuah peta jalan sederhana untuk mengenali bidang-bidang yang menjadi fokus perusahaan. Konektivitas dan digitalisasi akan membawa cara baru dalam bekerja serta pengintegrasian antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Saat ini, produktivitas menjadi prioritas nomor satu.

Meski banyak yang mencoba mengadopsi Industri 4.0 seperti yang dilakukan GKN Powder Metallurgy, ternyata banyak perusahaan yang menemui kendala. Menariknya, penyebabnya bukan faktor teknis dan teknologi, melainkan budaya perusahaan.

Dalam konteks Industri 4.0, yang harus dikembangkan adalah budaya digital. Menurut Eberhard Veit, mantan Direktur Utama Fesco (perusahaan elektronik asal Jerman yang berdiri sejak 1925), yang kini menjabat sebagai salah satu pemimpin lembaga pengawas perkembangan Industri 4.0 di Jerman, budaya digital merupakan faktor penting transformasi menuju Industri 4.0. Budaya ini harus dikaitkan dengan program digitalisasi jangka panjang yang tidak hanya melibatkan manajemen dan eksekutif, melainkan juga semua karyawan perusahaan.

Pemimpin perusahaan dituntut harus mampu menyatukan organisasi sembari menanamkan rasa keterdesakan untuk melakukan perubahan. Ia harus menciptakan budaya partisipasi, mendorong karyawan untuk tetap kompak, serta belajar untuk mengandalkan sistem digital yang baru.

Selanjutnya, pemimpin harus bisa menginspirasi karyawan untuk menyelaraskan cara berpikir mereka dengan operasi digital yang baru, paham cara menggunakan alat-alat yang tersedia, serta melihat kebutuhan untuk transformasi. Terakhir, setiap orang dalam perusahaan harus memiliki kepercayaan terhadap teknologi yang baru. Jadi, nilai-nilai yang dikembangkan adalah partisipasi, kekompakan, semangat membara untuk belajar, dan kepercayaan.

*) Penulis adalah salah satu Master Consultant di The Jakarta Consulting Group