• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

DISRUPSI DIGITAL

Di era digital ini, disrupsi telah menjadi sebuah kata yang trendi. Bagi dunia bisnis, kata ini semakin santer disebut, terutama bila berkaitan dengan strategi dan perencanaan. Dari perspektif teknologi, semakin banyak perusahaan yang menyadari terjadinya disrupsi digital. Mereka paham apa yang mereka kerjakan pada hari ini boleh jadi tidak lagi relevan di masa depan. Mereka belajar untuk membuka mata serta beriskap proaktif (tidak lagi reaktif). Mereka melakukan langkah-langkah untuk mengenali identitas mereka sendiri.

Meski memiliki antusiasme dan kemauan, penting diingat bahwa tidak semua gagasan-gagasan baru untuk digitalisasi atau otomatisasi bia disebut disruptif. Jika sebuah perusahaan berencana untuk mendisrupsi pasar, harus dimulai dari hal mendasar. Disrupsi digital dapat didefinisikan sebagai perubahan yang terjadi saat teknologi digital dan bisnis model mampu memengaruhi proposisi nilai dari barang dan jasa yang ada. Menciptakan teknologi yang bisa membuat produk dan layanan yang ada saat ini menjadi ketinggalan zaman jelas bukan pekerjaan mudah.

Berikut ini adalah ciri-ciri dari teknologi yang disruptif. Pertama, teknologi tersebut harus bisa mengatasi masalah yang dihadapi orang banyak. Kedengarannya sederhana dan tidak asing. Meski demikian, inilah yang harus dipenuhi. Pelaku bisnis harus bisa menjelaskan mengapa teknologi yang ada saat ini tak lagi bisa diandalkan, untuk selanjutnya memperkenalkan teknologi baru kepada konsumen. Di samping itu, teknologi disrupsi harus membuat berbagai macam aktivitas menjadi lebih mudah, bukan malah sebaliknya. Kenyataannya, banyak inovasi baru yang membuat orang harus mengeluarkan ekstra biaya, tenaga, waktu dan pikiran.

Kedua, teknologi tersebut harus sanggup mengubah peta persaingan bisnis. Biasanya, teknologi disruptif mengguncang pasar secara tiba-tiba, dari arah yang tak disangka-sangka. Siapa yang menduga Appple, produsen Komputer, bisa memporak-porandakan Kodak, yang bergerak dalam industri fotografi dan juga Motorora, produsen telepon seluler?  Teknologi disruptif tidak hanya menyasar satu atau dua industri, namun juga hampir semua Industri. Inilah bedanya teknologi disruptif dengan teknologi berkembang (emerging technology). Yang terakhir ini hanya berfokus pada satu industri. Contohnya adalah teknologi mobil listrik yang perkembanganya relatif lambat dan belum mampu secara signifikan menggeser pasar mobil konvensional, yang berbahan bakar minyak dan gas. Teknologi disruptif memiliki fleksibilitas dan daya tahan untuk bermetamorfosis ke dalam sesuatu yang nyaris semua orang dan semua industri (kalau tidak mau dikatakan semua) sepakat bahwa teknologi tersebut bermanfaat meningkatkan kualitas hidup orang banyak.  Inilah alasan mengapa sebuah perusahaan yang ingin memanfaatkan disrupsi teknologi meninggalkan pola-pola pikir tradisional dan mampu berpikir out of the box guna menemkan cara melakukan sesuatu dengan lebih cerdas, lebih cepat, lebih murah, dan lebih mudah.

Ketiga, teknologi disruptif harus mampu melahirkan perubahan perilaku (behavioural shift). Inilah barangkali ciri terpenting dari sebuah teknologi disruptif. Disrupsi digital bolehlah dipandang layaknya sebuah pergerakan. Disrupsi tidak akan terjadi sampai pengguna akhir beradaptasi dengan teknologi, menerima teknologi dengan penuh sukacita, hingga akhirnya merasa tidak dapat hidup tanda adanya teknologi tersebut. Contohnya adalah teknologi telepon pintar saat ini.  Teknologi paling sukses justru adalah teknologi yang membuat orang tidak sadar bahwa mereka membutuhkannya. Dahulu, teknologi telepon, surat elektronik, kamera, radio, televisi, permainan, buku telepon, surat kabar, majalah, pendidikan, kesehatan, dan sebagianya terpisah-pisah, dalam arti memiliki peralatannya sendiri-sendiri. Saat itu, orang oke-oke saja dengan fenomena ini Tapi sekarang? Semua bisa disatukan dalam teknologi telepon pintar. Karena sudah terbiasa dengan yang praktis, banyak orang enggan jika harus membeli seabrek peralatan di atas. Alasannya? Tentu saja mahal dan tidak praktis.

 

(c) The Jakarta Consulting Group