• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Karyawan Sebagai Penggerak Inovasi

Selama ini, inovasi dalam perusahaan kerap identik dengan tugas-tugas dan kegiatan yang hanya dilakukan sekelompok orang dengan posisi dan dalam bagian tertentu, seperti manajer dan staf divisi penelitian dan pengembangan atau R & D.

Karyawan di bagian lain biasanya tidak terlibat dalam inovasi. Namun, saat ini melibatkan karyawan yang lebih luas dalam proses inovasi semakin penting. Karyawan di setiap tingkat dan bagian, bukan hanya di bagian R & D, semakin diharapkan menjadi pelopor lahirnya ide, produk, proses, dan model bisnis yang inovatif. Alasannya, merekalah yang kerap lebih memahami realitas keseharian perusahaan, berkat interaksi mereka dengan pihak-pihak seperti rekan kerja, pelanggan, pemasok, komunitas, dan pemerintah.

Karyawan perlu didorong untuk memunculkan ide-ide baru serta terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang inovatif. Alasannya, menurut Kesting dan Ulhoi, adalah terjadinya perubahan-perubahan yang signifikan dalam industri dan masyarakat. Semakin banyak perusahaan yang melepaskan diri dari pola pikir tradisional yang mengharuskan kegiatan produksi dan R & D terpisah dari dunia luar. Alasan berikutnya adalah makin tumbuhnya pasar tenaga kerja padat pengetahuan yang berketerampilan tinggi. Karyawan dengan penndidikan, pengetahuan, dan keterampilan tinggi tidak akan puas dengan hanya mendapat gaji tinggi. Mereka juga mendambakan terbuka lebarnya peluang untuk mengoptimalkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki demi kemajuan perusahaan. Untuk mengakomodasi aspirasi ini, perusahaan memberikan kesempatan bagi mereka untuk melahirkan dan menerapkan ide-ide baru. Alasan lainnya adalah perekonomian nasional saat ini yang semakin terintegrasi dengan perekonomian regional dan global. Hal ini pada gilirannya mengakibatkan semakin bergejolaknya lingkungan dan persaingan sehingga perusahaan semakin dituntut untuk rajin berinovasi demi mempertahankan hidup dan memenangkan persaingan. Keterlibatan karyawan luas dalam proses inovasi adalah juga demi mengoptimalkan potensi kapabilitas karyawan sehingga bermanfaat baik bagi karyawan sendiri dan juga perusahaan.

Hasil penelitian oleh konfederasi serikat pekerja di Denmark menunjukkan manfaat mendorong karyawan mempelopori inovasi. Yang pertama adalah peningkatan daya saing dan kinerja melalui perbaikan produktivitas dan proses kerja. Kepuasan kerja karyawan yang aktif dilibatkan dalam inovasi juga lebih tinggi. Manfaat lainnya adalah berkurangnya tekanan negatif. Ingatlah bahwa inovasi juga bisa berdampak negatif bagi karyawan. Dampak tersebut, menurut Jansen, adalah kerap terkurasnya waktu dan energi; rasa tidak nyaman akibat perubahan terkait pekerjaan dan kondisi kerja; dan tekanan emosional. Oleh karenanya, keterlibatan karyawan dalam inovasi harus diimbangi dengan sistem imbalan yang transparan dan adil guna meminimalkan dampak negatif tersebut dan juga meningkatkan kegairahan karyawan untuk berinovasi.

Agar pelibatan karyawan luas dalam proses inovasi berjalan efektif, perlu dikembangkan budaya kerja yang inovatif. Ini berarti karyawan harus bisa bekerjasama dengan orang dari fungsi atau departemen yang berbeda; hadirnya dukungan manajemen agar karyawan berperan aktif dalam proses inovasi; dan terciptanya hubungan saling percaya antara manajemen dan karyawan. Keberhasilan bekerjasama, dukungan manajemen, dan tumbuhnya rasa saling percaya ini akan terwujud bila terjalin komunikasi yang efektif. Untuk itu, perusahaan perlu membenahi dan meningkatkan efektivitas komunikasi internalnya.

Selanjutnya, guna mengembangkan budaya inovasi di tempat kerja, perusahaan harus menerapkan pendekatan berorientasi hasil secara luas bagi keterlibatan karyawan dalam proses inovasi; terbuka terhadap ide-ide baru; merumuskan strategi yang inovatif; membuka ruang bagi eksperimentasi dan kesalahan sampai batas-batas tertentu; mengembangkan pelatihan; dan menciptakan sistem umpan balik pelanggan. Perusahaan juga harus menciptakan kemudahan bagi karyawan untuk berbicara dengan rekan kerja, manajer, dan bawahan guna berbagi ide dan berkolaborasi.

Vestas, perusahaan penyedia pembangkit tenaga udara yang berkantor pusat di Denmark, dapat menjadi contoh kisah sukses pelibatan karyawan dalam inovasi. Meningkatnya permintaan terhadap energi terbarukan dan persaingan memperebutkan bakat-bakat terbaik mengharuskan Vestas melirik karyawan sebagai motor inovasi. Tujuannya adalah meningkatkan posisi Vestas menjadi produsen energi nomor satu dunia dan pada saat yang sama menciptakan lingkungan kerja yang mampu menginspirasi, menantang, dan menarik bagi karyawan.

Guna menjalin hubungan lebih erat dengan karyawan, manajer pabrik menempatkan meja kerjanya dekat dengan area produksi guna mendapatkan akses langsung terhadap pengetahuan dan keterampilan karyawan serta membangun rasa saling percaya. Pengetahuan dan keterampilan karyawan sangat penting dalam proses inovasi mengingat perusahaan sangat bergantung pada masukan dari karyawan. Sementara dengan adanya rasa saling percaya, hambatan budaya dapat diatasi.

Vestas memanfaatkan sejumlah sarana guna melibatkan karyawan dalam inovasi, diantaranya agen perubahan, workshop, dan learn boards. Agen perubahan membantu memfasilitasi perbaikan-perbaikan yang diusulkan karyawan dan pemecahan masalah. Mereka mendengarkan pandangan-pandangan yang dikemukakan karyawan dan juga mendorong kemunculan dan penerapan ide-ide prosedur baru. Saat sebuah proyek inovasi baru dimulai, diselenggarakanlah workshop yang diikuti oleh manajer dan karyawan terpilih. Saat workshop, produk dan proses baru dipresentasikan di depan karyawan. Selanjutnya karyawan diharuskan mengemukakan masukan mereka. Workshop untuk karyawan bagian produksi diselenggarakan sebagai sarana memecahkan masalah berkaitan dengan keamanan, kualitas, dan efisiensi produksi. Dalam learn boards, karyawan dapat mengirimkan ide-ide mereka kepada manajemen, yang dibagi berdasarkan kategori-kategori misalnya keamanan, produksi, proses, dan sebagainya. Ide seputar keselamatan selalu diprioritaskan dan segera dievaluasi oleh manajemen. karyawan bagian produksi

Dengan menjadikan karyawan sebagai penggerak inovasi, Vestas mampu meningkatkan posisinya sebagai produsen energi papan atas di dunia. Kinerja keuangan dan daya saing perusahaan meningkat. Demikian pula halnya dengan kepuasan kerja.

Sudah saatnya perusahaan melibatkan karyawan lebih luas untuk mempelopori inovasi, baik demi kemajuan perusahaan dan sekaligus juga kepuasan kerja karyawan.

 

[Majalah Eksekutif]