• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Kartini Bisnis

SINDO WEEKLY

Himawan Wijanarko*)

Setiap memperingati Hari Kartini tanggal 21 April, selalu muncul isu mengenai peran perempuan di berbagai bidang, mulai dari sosial, budaya, dan ekonomi. Di perusahaan-perusahaan keluarga, peran perempuan kerap direpresentasikan oleh istri pendiri atau pemilik.

Istri bisa menjadi penentu maju mundurnya perusahaan. Kontribusinya tak bisa diremehkan. Peggy Cherng adalah contohnya. Ia rela melepas kariernya sebagai software development di 3M dan McDonnell Douglas demi membantu suaminya, Andrew Cherng,  membesarkan Panda Express, sebuah jaringan restoran yang menyediakan masakan China. Saat ini, keduanya masing-masing menjabat sebagai Direktur dan Wakil Direktur Panda Express. Panda Express sendiri saat ini telah memiliki kurang lebih 2000 jaringan restoran.  Saat ditanya tentang kesuksesan keduanya mengelola bisnis, Peggy mengatakan bahwa keduanya telah saling memahami kekuatan dan kelebihan masing-masing. Keduanya juga belajar untuk saling menyikapi perbedaan dengan bijak.

Peggy telah menjadi mitra bisnis yang sukses bagi Andrew. Ia turut terlibat serta bertanggung jawab untuk beraneka ragam proyek. Dalam struktur organisasi, ia tercatat sebagai pimpinan perusahaan. Keuntungan dari adanya  suami istri yang saling bahu membahu bekerja sama membagun  perusahaan ini adalah strruktur manajemen yang lebih fleksibel dan biaya yang lebih rendah.

Namun ada juga istri memfokuskan diri menjaga keharmonisan keluarga. Ia berperan sebagai penengah dan fasilitator saat suami dan anak-anaknya terlibat perselisihan. Istri yang seperti ini sering mengingatkan keluarganya tentang pentingnya keseimbangan antara kehidupan keluarga dan pekerjaan. Mereka juga jerap bertanggung jawab atas inisiatif-inisiatif keluarga, seperti pembentukan dewan keluarga, mencatat sejarah keluarga, menjadi tuan rumah pertemuan keluarga yang diselenggarakan secara berkala, merencanakan liburan dan perayaan-perayaan penting keluarga.

Banyak juga istri bertindak layaknya karyawan, yang berarti mengurus bidang-bidang tertentu semisal sumber daya manusia, (SDM), keuangan, dan akuntansi, bahkan pemasaran. Di sini,. sang istri tidak tercatat sebagai pemilik sehingga kontribusi dan keterlibatannya dibatasi hanya pada fungsi-fungsi atau proyek-proyek yang dijalankannya. Biasanya, istri akan membantu pada bidang-bidang yang sesuai dengan kompetensinya. Jika misalnya seorang istri pandai dalam hal menjalin hubungan dengan pelanggan, maka ia akan bekerja di bagian ini. Jika sang istri pandai dan berminat dalam isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan karyawan, maka ia  bisa membangun sistem manajemen kinerja, menyususn rencana asuransi kesehatan, acara-acara penghargaan, dan pesta dan rekreasi karyawan. Begitu seterusnya.

Namun tidak sedikit pula istri yang melalui sikap dan tindakannya  justru mengobrak-abrik fondasi bisnis yang dibangun suami mereka. .  Contohnya adalah Hyun Jeong-eun, Chairwoman Hyundai Group. Saat Chairman Hyndai meninggal dunia, Hyun ditunjuk menggantikannya. Namun Hyun tidak memiliki pengalaman manajerial. Ia juga tidak mau menunjuk manajer professional. Bahkan, banyak eksekutif-eksekutif kelas atas diganti karena monolak mengikuti kehendak Jeong-eun. Pengamat menilai Jeong-eun bersikap otoriter dan mengelola perusahaan seara serampangan.

Ada juga cerita senada mengenai Choi Eun-yeong, mantan chairwoman dari Hanjin Shipping.  Setelah suaminya, Cho Soo-ho, meninggal dunia tahun 2007, Cho mengambil alih kendali perusahaan. Namun sama halnya dengan Hyun, ia tidak punya pengalaman manajerial. Cho mendapat kecaman bertubi-tubi saat terungkap bahwa ia dan anak-anaknya telah menjual seluruh saham mereka di Hanjin Shipping tepat sebelum perusahaan mengajukan petisi kepada kreditor untuk meminta bantuan mereka merestrukturisasi perusahaan.

Tentu tidak ada keluarga yang menginginkan bisnisnya berantakan. Apa pun peran yang dijalankan istri, seyogianya bermuara pada kebaikan bisnis dan keluarga, dari generasi ke generasi.

*) Penulis adalah salah satu Master Consultant di The Jakarta Consulting Group