• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Isi Perut Hermes

SINDO WEEKLY

Himawan Wijanarko*

Ini kisah Axel Dumas, Direktur Utama Hermes, produsen barang-barang mewah asal Perancis. Ia adalah generasi keenam yang memimpin Hermes.  Dumas tidak begitu saja menerima anggota keluarga bekerja di perusahaan. Ia mensyaratkan mereka yang ingin bekerja di Hermes untuk lebih dulu mencicipi kesuksesan karier di luar perusahaan. Tujuannya tentu agar saat bergabung, mereka sudah matang. Dumas sendiri bekerja di BNP Paribas sebelum bergabung dengan Hermes. Di Hermes, ia bekerja di berbagai departemen. Yang paling menonjol adalah sebagai Direktur Keuangan.

Dalam menjalankan Hermes, ia dibantu sepupunya, Pierre-Alexis, yang menjabat sebagai wakil presiden eksekutif. Keduanya membentuk kemitraan yang memadukan antara bakat dan kecerdasan finansial.

Pada 2017 lalu, penjualan meningkat sekitar 9%, sedangkan setiap pasar yang dilayani mencatat pertumbuhan. Januari lalu, Hermes membuka toko unggulannya di Hong Kong. Hermes menyasar konsumen-konsumen asal Cina daratan dan juga Asia Tenggara yang semakin banyak dan sering datang ke Hong Kong.

Meski demikian, kenaikan penjualan Hermes dibayang-bayangi maraknya perdagangan elektronik (e-commerce). Jadi, paling tidak ada tiga tantangan yang dihadapi Hermes: mempertahankan tingkat penjualan, menangani tantangan hadirnya perdagangan elektronik, dan mempertahankan kualitas produk.

Axel dan Pierre-Alexis mengatakan bahwa mereka berdua adalah perintis perdagangan elektronik di Hermes saat perusahaan masih dipimpin oleh paman mereka. Usaha ini dimulai pada 2001 saat Hermes menjual dasi secara daring untuk pasar Amerika Serikat (AS).

Saat itu, terjadi diskusi di antara keluarga. Selama ini, orang berbondong-bondong datang ke Paris untuk berbelanja. Lantas, mengapa keluarga harus melebarkan sayap ke luar Perancis? Akhirnya, diputuskan bahwa Hermes akan berekspansi ke seluruh dunia.

Dumas senantiasa ingin mengawasi sistem dan proses yang berlaku di Hermes. Oleh karena itu, ia tidak melisensikan bisnisnya serta tidak mengurangi kontrolnya terhadap platform darinya. Meski bisnis daring terus digalakkan, toko-toko fisik tetap berlanjut. Hermes memiliki 23 toko di Cina serta berencana berekspansi ke kota baru tiap tahunnya.

Hermes didirikan pada 1837. Pada 131 tahun lalu, Hermes berhasil lepas dari kutukan tiga generasi. Generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga meruntuhkan. Inilah mitos yang telanjur melekat dan susah dalam sebuah bisnis keluarga.

Nah, yang lebih membanggakan, Hermes dipimpin oleh generasi penerus yang sukses. Jujur saja, tidak banyak yang bisa seperti mereka. Axel dan Pierre-Alexis adalah lulusan universitas bergengsi di dunia. Axel lulusan Harvard dan Pierre-Alexis lulusan Brown University. Inisiatif mereka “mendahului zaman” dilakukan dengan menginisiasi perdagangan elektronik di Hermes. Keduanya juga menangani berbagai divisi sebelum menduduki jabatan eksekutif. Hal ini tentu saja memperkaya wawasan mereka tentang dunia bisnis.

Sikap Dumas menetapkan prasyarat bagi anggota keluarga agar bisa bekerja di Hermes merupakan upaya menegakkan profesionalitas. Tak dapat dimungkiri, agar bisa bertahan dalam persaingan, dibutuhkan orang-orang yang kompeten. Inilah sesuatu yang belum tentu dimiliki anggota keluarga.

Bagaimana pun, generasi penerus yang sukses tidak bisa lepas dari dukungan orang tua. Dalam hal ini, menyekolahkan mereka ke lembaga pendidikan tinggi terbaik di dunia belumlah cukup. Agar sukses dalam pekerjaan, kerap diperlukan kompetensi khusus serta pengalaman yang tidak diajarkan di bangku sekolah. Menimba pengalaman di perusahaan lain sebelum bergabung dengan perusahaan keluarga akan sangat bermanfaat.

Tak kalah penting, orang tua harus memperkenalkan budaya perusahaan keluarga kepada generasi penerus. Generasi penerus juga harus mengenali serta mempelajari jejaring perusahaan, semisal pelanggan, investor, pemasok, penasihat hukum, dan mitra bisnis. Bagi para jejaring, hal ini memberi peluang bagi mereka untuk mengenal sang penerus lebih dekat sehingga pada gilirannya akan menaruh kepercayaan padanya.

*) Penulis adalah salah satu Master Consultant di The Jakarta Consulting Group