• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Perang Saudara Sepeninggal Pendiri

SINDO WEEKLY
Himawan Wijanarko*)

Anak-anak Lee Kuan Yew, pendiri negara Singapura, saling bertikai mengenai nasib rumah keluarga, yang beralamat di 38 Oxley Road. Pertikaian ini bermula saat dua adik Lee Hsien Loong, anak Lee Kuan Yew yang sekarang menjadi Perdana Menteri negeri Singa itu, menyerang sang kakak di media sosial. Lee Hsien Yang dan Lee Wei Ling menuduh sang perdana menteri menyalahgunakan kekuasaannya berkaitan dengan rumah warisan mendiang Lee Senior, yang meninggal tahun 2015 pada usia 91 tahun. Mereka juga menyatakan niatnya meninggalkan Singapura lantaran selalu diawasi dan tak dikehendaki kehadirannya. Mereka bahwa khawatir Lee Hsien Loong akan menggunakaan alat-alat negara untuk menindak mereka.

 

Lee Hsien Yang dan Lee Wei Ling ingin melaksanakan wasiat sang ayah, yang menginginkan rumah tersebut dihancurkan setelah Lee Wei Ling pindah. Namun Lee Hsien Loong mempertanyakan wasiat tersebut dan mempertimbangkan untuk menjadikan rumah tersebut sebagai situs warisan. Menganggapi hal ini, Lee Hsien Yang dan Lee Wei Ling menganggap sang kakak tidak jujur dan ingin memanfaatkan rumah tersebut demi kepentingan politiknya. Lee Hsien Loong menyangkal tujuan tersebut. Ia pun menyatakan kekecewaannya kepada kedua adiknya, yang mengumbar masalah keluarga di media sosial.

 

Perkembangan terakhir, Lee Hsien Yang dan Lee Wei Ling, telah menerima tawaran untuk berdialog serta menyelesaikan masalah ini secara pribadi, tanpa melibatkan pengacara dan pejabat pemerintah. Hal ini diungkapkan Perdana Menteri Lee saat berbicara di depan parlemen Singapura. Agaknya, mereka menyadari risiko yang lebih besar, terutama bagi negara Singapura, jika pertikaian ini sampai berlarut-larut. Apatah lagi, Singapura merupakan pusat keuangan di kawasan Asia Tenggara.

 

Kita tunggu bagaimana akhir pertikaian ini. Yang jelas, kondisi ini mengingatkan kita akan apa yang kerap terjadi di lingkungan bisnis keluarga. Saudara sekandung saling bertikai sepeninggal sang pendiri.

 

Berita baiknya, paling tidak hingga saat ini keluarga Lee masih berniat menyelesaikan perselisihan ini dengan cara dialog. Di banyak perusahaan keluarga, situasinya kerap lebih runyam. Pertikaian kerap harus dibawa ke ranah hukum, yang prosesnya lama dan melelahkan.

 

Pertanyaannya, mengapa dalam bisnis keluraga anak-anak kerap cekcok sepeninggal orang tua mereka? Agaknya hal ini disebabkan perusahaan hanya berfokus pada rencana perusahaan, namun kurang memedulikan rencana keluarga. Rencana perusahaan memang harus direncanakan secara matang. Meski demikian, hal ini akan sia-sia jika di antara sesama anggota keluarga ribut sendiri. Akibatnya, eksekusi hanya menjadi kartu mati. Oleh karenanya, saat perusahaan sudah maju, perlu dipikirkan struktur kepemilikan dan kepemimpinan perusahaan.

 

Masalah kepemimpinan ini penting disorot karena di banyak perusahaan milik keluarga peran ayah sabagai pendiri sangat dominan. Ayah adalah simbol penggerak perusahaan, orang tua yang wajib dihormati dan dipatuhi petuahnya, dan pemersatu keluarga. Posisi ayah lebih dianggap lebih tinggi dibanding anak. Konsekuensinya, ada tata karma yang harus dipatuhi anak saat berhadapan dengan ayah.

 

Mengingat dominannya peran ayah, tak heran bila ketergantungan sang anak kepada orang tua sangat tinggi. Hal ini terus berlangsung meski sang anak telah lulus kuliah dari perguruan tinggi bergengsi, telah menguasai teknik-teknik manajemen modern, dan telah diserahi tugas memimpin perusahaan. Maka tak heran setelah sang pendiri tiada, generasi muda seolah-olah kehilangan pegangan. Tidak ada lagi figur penengah yang biasanya mampu menyelesaikan segala perselisihan. Kondisi ini diperparah dengan semakin mencuatnya kepentingan pribadi masing-masing anak. Untuk mengantisipasi hal ini, agaknya sejak awal harus ditekankan pentingnya kemandirian tanpa mengorbankan profesionalisme dan keharmonisan.

*) Penulis adalah salah satu Master Consultant di The Jakarta Consulting Group dan juga telah menerbitkan beberapa buku terkait bidang Management