• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Blok Cepu Mengapa Seret

Jelas seret! Kalau tidak seret justru aneh. Mengapa? Bagaimana dua orang yang berebut (sebut saja) harta dapat menyelesaikan sendiri masalahnya tanpa pihak yang lebih tinggi memberikan bimbingan cara penyelesaian yang adil dan bijaksana. PERTAMINA dan Exxon Mobil sama-sama merasa memiliki alasan kuat bahwa dialah yang lebih berhak. PERTAMINA merasa memiliki hak lebih, karena memang menurut sejarah dan aspek legalnya Blok Cepu adalah miliknya. Exxon Mobil juga merasa punya hak lebih karena dia yang melakukan pengeboran eksplorasi dan berhasil menemukan cadangan.

Mengapa mengoperasikan ladang minyak kok dijadikan rebutan? Mengoperasikan suatu pengembangan dan produksi lapangan minyak dengan cadangan besar di bawah kontrak PSC memang merupakan kenikmatan. Bayangkan semua pengeluaran yang sudah (sering disebut sunk cost), maupun yang akan terjadi yang terkait dengan operasi perminyakan akan diganti langsung (lebih dikenal dengan nama cost recovery) dari hasil minyak yang diproduksi.

Yang dimaksud dengan biaya operasi perminyakan meliputi kegiatan eksplorasi, pengembangan, produksi, dan pengangkutan. Memang ada pembatasan dimana pengeluaran tidak boleh dibebankan sebagai cost recovery, tetapi pengeluaran tersebut hanya merupakan porsi yang sangat kecil, misalnya biaya yang dikeluarkan sebelum kontrak dan biaya pembayaran bonus.

Ada rule of tumb yang belum tentu benar tetapi sering menjadi pedoman para operator migas, yaitu bahwa asal biaya operasi perminyakan tidak lebih 40% dari pendapatan hasil produksi migas, maka operasinya masih dianggap oke. Kalau produksi besar, seperti halnya Lapangan Cepu nantinya, maka biaya operasinya mungkin hanya berkisar $3-4/barel atau bahkan lebih murah. Apa artinya? Berarti operator mempunyai ruang yang amat luas untuk bermain dalam cost berapapun yang ingin dia lakukan. Mau studi apapun, atau mau menggunakan hardware/software yang manapun, mau mendatangkan ahli kelas apapun, mau mengadakan penelitian laboratorium sedetail apapun, mau melakukan survey yang selengkap apapun, mau membangun fasilitas kantor pusat dan lapangan sebagus apapun, mau menggaji pegawai expat berapapun, dan kegiatan lain apapun tetap perusahaan mampu melakukan dan masih tetap dianggap baik dari segi manajemen operasi.

Lho, kalau hasil penjualan produksi migas per tahun tidak mencukupi? Ya, potong terus sampai seluruh utang biaya operasi lunas. Baru setelah itu ada keuntungan yang bisa dibagi buat Pemerintah 85% dan Pemilik Joint Venture (ExxonMobil, PERTAMINA, dan Pemda) 15%. Memang kelihatannya Pemerintah dapat bagian besar yaitu 85%, tetapi kalau biaya operasi perminyakan terlalu besar tidak terkendali maka keuntungan yang dibagi mengecil.

Blok Cepu dengan kondisi cadangan yang besar dan sudah siap dikembangkan merupakan self financial field. Artinya dia tidak perlu mencari-cari uang lagi, uang akan datang sendiri.

Nah, melihat fakta ini tentu saja dua orang yang berebut harta ini pasti tidak ada yang mau mengalah. Jadi harus ada juri/wasit, dan tentu saja dalam hal ini Pemerintah. Pemerintah tidak mungkin hanya menyerahkan permasalahan itu kepada PERTAMINA yang juga sedang ikut berebut.

Mesti diingat Blok Cepu memang suatu harta besar, katanya cadangannya 400 MMBO. Dengan cadangan sebesar itu memungkinkan ROI-nya bukan sekedar 15% atau 20% atau 100% tetapi bisa mencapai ribuan persen. Dengan ROI yang sebesar itu, berapapun besarnya cost tetap bisa diserap, sementara kinerjanya pun masih tetap bagus. Lalu apa yang menjadi perhatian kita? Nah disinilah letak kepentingan nasional yang harus dikedepankan.

Bila ExxonMobil menjadi operator terdapat beberapa hal yang mesti dipertimbangkan. Akan banyak SDM asing yang tentunya sangat mahal berlipat-lipat jika dibandingkan SDM domestik. Demikian pula banyak teknologi asing, services pendukung asing, serta memakai standar operasi kelas dunia yang kesemuanya berdampak kepada biaya yang sangat mahal dan berlipat-lipat. Padahal sebenarnya pengembangan Blok Cepu bukan lagi sesuatu yang asing bagi perusahaan-perusahaan minyak nasional (PERTAMINA, Medco, Bakri, dan lain-lain)

Bagiamana jika dipegang PERTAMINA? Tentu saja negara sangat diuntungkan karena akan dipakai SDM, teknologi, services nasional. Standar operasi berpatok pada good and practices saja. Secara keseluruhan penghematan yang luar biasa dan terjadi peningkatan national content. Alasan ExxonMobil mobil mempunyai dana, teknologi, SDM merupakan alasan 40 tahun yang lalu ketika Pemerintah memulai kontrak production sharing tahun 1967, yang barangkali sekarang tidak lagi relevan. Konsorsium beberapa perusahaan nasional segera dapat menghimpun dana sebesar itu.

Namun kita mahfum Pemerintah memang dalam kondisi yang sulit: bila diberikan PERTAMINA, maka berbagai tekanan akan muncul termasuk dari Pemerintah Amerika. Tetapi jika diberikan kepada ExxonMobil, kok lucu seakan-akan mau mematikan usaha nasional. PERTAMINA sudah dirugikan dengan mengubah TAC menjadi PSC. Padahal inilah kesempatan perusahaan nasional tumbuh dan berkembang. Sulit Bukan?

 

[Majalah Trust]