• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Cepu: Langkah Selanjutnya

Di luar masalah legal non teknis seperti hal tukar guling Blok Cepu yang konon disepakati 2005 dimana PERTAMINA dikabarkan tidak ikut teken MOU, kesepakatan Joint Operation Agreement perlu ditindaklanjuti dengan arif. Segala debat dan pembentukan opini mengenai cara mengoperasikan Blok Cepu sudah usai. Sekarang bagaimana mengimplementasikan kesepakatan tersebut agar kepentingan PERTAMINA/Nasional dapat dicapai secara maksimum. Energi kita seharusnya dipakai untuk mengawal pelaksanaannya, agar produksi minyak nasional segera meningkat.

Hal-hal teknis penting apa saja yang menyangkut PERTAMINA sebagai partner?

Pertama, penentuan lokasi kantor joint operation. Lho, lokasi kantor saja kok jadi masalah. Sangat disarankan agar lokasi kantor lepas sama sekali dari kantor ExxonMobil Indonesia. Walaupun kelihatannya remeh, tetapi perlu secara serius diingatkan. Sudah banyak pengalaman bahwa apabila kantor ditempelkan pada kantor mertua, maka secara psikologis para pegawai PERTAMINA merasa mondok (padahal kantor ExxonMobil yang membiayai juga Pemerintah Indonesia). Mereka merasa menjadi warga kelas dua. Dan itulah awal mula munculnya kekurangpercayaan diri. Jadi pilihlah kantor yang tidak jadi satu dengan gedung ExxonMobil.

Kedua, masalah cash call. Cash call adalah kebutuhan uang cash untuk keperluan operasi. PERTAMINA sebagai partner yang baik dan bonafid jangan sekali-kali minta dan mau ditalangi. Selain kena pinalti yang besar, hal itu akan menimbulkan keruwetan akuntansi, juga akan menjatuhkan moral para pekerja PERTAMINA. Dalam kasus PERTAMINA ditalangi cash call-nya oleh partner sering dibungkus dengan kata-kata apik: out of production. Artinya dibayar dengan bagian produksi minyak yang akan diterima PERTAMINA. Akibatnya produksi yang akan diterima PERTAMINA akan sangat berkurang, karena disamping untuk membayar pinjaman, juga harus membayar penalti yang sebenarnya adalah biaya bunga yang jauh di atas bunga pasar. Belum dipertimbangkan beban psikologis yang berat bagi para pegawai PERTAMINA.

Ketiga, masalah joint account. Banyak sekali joint operation PERTAMINA dengan Partner Asing jaman dulu (mudah-mudahan sekarang tidak lagi) mengalami kesulitan membentuk joint account. Padahal logikanya pembuatan joint account merupakan salah satu langkah strategis agar semua pengeluaran dan pemasukaan dapat jelas terkontrol oleh masing-masing partner maupun secara bersama. Biasanya Partner Asing susah diajak untuk langsung membuat joint account. Apa alasannya? Barangkali dia tidak mau dikontrol!

Keempat, masalah penempatan SDM. SDM seperti apa yang harus ditempatkan di sana? Orang-orang teknis PERTAMINA, terutama yang saat ini berumur 30 45 tahun, sangat mampu menangani operasi lapangan tersebut. Mereka banyak yang telah S3 dan S2, telah menangani lapangan produksi internal PERTAMINA, sudah disekolahkan dan dilatih dengan berbagai ilmu dan ketrampilan luar dan dalam negeri, dan sudah ditempatkan ke berbagai joint operation. Jadi asal tidak salah pilih tidak perlu diragukan kemampuannya.

Kelima, masalah birokrasi internal. Proses administrasi dan pengambilan keputusan di PERTAMINA harus berubah. Tanpa perubahan kesisteman birokrasi, PERTAMINA tidak mungkin menjadi partner yang handal. Misalkan saja mengenai cash call, jika cara handlingnya seperti sekarang, dimana masih melewati proses berlapis-lapis, kurang pendelegasian, maka akan terjadi keterlambatan-keterlambatan merespons tuntutan operasional joint operation.

Keenam, peran pengawasan dan pengendalian BPMIGAS. Badan ini akan sangat berperan setelah kesepakatan joint operation dicapai. Dia akan sangat menentukan kinerja dari joint operation, termasuk bertanggung jawab segala interest nasional, efisiensi dan efektifitas biaya, banyak sedikitnya pendapatan Pemerintah, peningkatan pemakaian sumber daya nasional dan pengaturan pengurasan produksi BPMIGAS. BPMIGAS akan menjadi benteng terakhir untuk menjamin kepentingan nasional. Pengalamannya yang sudah lebih dari 30 tahun mengelola Kontraktor Asing tidak perlu diragukan.
Semoga berhasil!

 

[Majalah Trust]