• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Perangkap Bisnis Rintisan

SINDO WEEKLY

Himawan Wijanarko*)

Pernah mendengar nama Homejoy? Barangkali sedikit sekali yang tahu. Perusahaan ini didirikan oleh Adora dan Aaron Cheung,  di San Francisco, AS pada tahun 2010 dan lima tahun kemudian sudah almarhum.

Saat masih beroperasi, Homejoy menyediakan platform daring (online) yang menghubungkan pelanggan dengan penyedia jasa pembersih rumah. Nama Homejoy sempat naik daun lantaran menawarkan jasa dengan harga murah dan menggunakan perangkat lunak untuk mengotomatisasi proses pemesanan sehingga lebih efisien.

Pada masa-masa awal didirikan, Adora sempat beberapa kali melakukan sendiri pekerjaan membersihkan rumah. Homejoy menerima pendanaan dari Y Combinator, sebuah perusahaan modal Ventura  pada tahun 2010, namun baru memulai operasinya pada tahun 2012. Perusahaan modal ventura lain yang turut andil dalam pendanaan Homejoy adalah Andreessen Horowitz, First Round Capital, Resolutr VC, PayPal, dan sebagainya. Dana yang berhasil dikumpulkan kurang lebih sebesar 40 juta Dollar AS.

Tahun 2014, Homejoy melakukan ekspansi ke Inggris, pasar sasaran pertamanya di luar AS. Di Inggris, perusahaan ini mematok harga 13 Poundsterling per jam, dengan para mitra pembersih mendapat bayaran berkiras 7 hingga 9,5 Poundsterling.

Lantas apa yang menyebabkan perusahaan rintisan ini harus berhenti beroperasi? Dalam sebuah wawancara, Adora Cheung, bekas Direktur Utana Homejoy, mengatakan bahwa ia terpaksa menutup Homejoy lantaran kesalahan perhitungan terhadap tuntutan hukum yang dilakukan karyawan.  Namun menurut sejumlah mantan karyawan, tuntutan hukum bukanlah faktor utama tumbangnya perusahaan. Ada setumpuk masalah yang dihadapi Homejoy, mulai dari kerugian yang menggunung, buruknya layanan sehingga tidak mampu mempertahankan kesetiaan pelanggan, dan ekspansi internasional yang mahal dan tanpa didasari perhitungan risiko secara cermat. Sederet masalah lainnya adalah  tersendatnya eksekusi, kesalahan teknis, hingga karyawan yang berjalan sendiri-sendiri tanpa ikatan tim yang solid.

Kegagalan Homejoy hanyalah salah  satu dari sekian banyak cerita suram bisnis rintisan. Bahkan, sejatinya cerita seperti ini boleh jadi lebih banyak ketimbang kisah gemilang  bisnis rintisan, yang kerap mendapat liputan luas.

Pertanyaannya, mengapa banyak perusahaan rintisan yang gagal? Yang paling utama rupanya adalah arogansi. Akibat terlalu arogan, banyak pemilik bisnis rintisan terbuai dengan kesuksesan di masa-masa awal,  sehingga mereka melakukan ekspansi tanpa perhitungan risiko yang cermat.  Rupanya, inilah yang dilakukan Homjoy, yang terlalu bersemangat melakukan ekspansi ke luar negeri dengan biaya yang mahal.

Berikutnya, hanya memfokuskan diri pada penmbenahan teknologi, khususnya teknologi informasi. Padahal, yang paling dibutuhkan boleh jadi bukanlah teknologi baru, melainkan model bisnis yang baru. Semata-mata melakukan digitalisasi akan membuat para pelaku bisnis tidak jeli melihat peluang bisnis.

Penyakit egoisme kerap menyerang para pimpinan dan karyawan bisnis rintisan. Banyak bisnis rintisan yang pimpinan dan karyawannya diisi oleh orang-orang cerdas,  berpendidikan tinggi, serta berpengalaman dan berprestasi di tempat kerjanya dahulu.. Namun satu hal yang kerap dilupakan: kerja sama tim. Inilah kunci utama kesuksesan sebuah bisnis. Akibat egoisme, kolaborasi sulit terwujud.  Lebih parah jika  mengancam kerukunan. Di Homejoy, yang terjadi adalah banyak karyawan bertalenta  tinggi justru membuat perjanjian sendiri-sendiri dengan kliennya tanpa ada koordinasi.

Kecerobohan sekecil apapun ternyata dapat berakibat fatal bagi perusahaan. Berbeda dengan perusahaan yang telah mapan, bisnis rintisan belum punya payung pelindung macam reputasi, merek, dan sumber daya finansial. Akibatnya,  jika kualitas produk dan layanan yang beredar bermasalah, atau jika bisnis menghadapi tuntutan hukum,  bisnis rintisan lebih rentan  ambruk.

Inilah penyebab  kegagalan yang wajib diantisipasi. Terlena fokus kepada  teknologinya, tetapi khilaf dalam mengelola aspek manusiawinya.

*) Penulis adalah salah satu Master Consultant di The Jakarta Consulting Group