• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Perangkap Euforia

SINDO WEEKLY

Himawan Wijanarko*

Asian Paints adalah produsen cat yang berkantor pusat di Mumbai, India. Perusahaan ini merupakan produsen terbesar di India dan terbesar keempat di Asia. Pada 2015, perusahaan ini menguasai kurang lebih 54% pangsa pasar cat di India. Meski demikian, eksekutif perusahaan masih tidak puas dengan pencapaian ini. Ketidakpuasan ini juga mencakup hal-hal yang lebih spesifik. Sebut saja dalam hal efisiensi. Mengapa perusahaan harus memproduksi dan menjual cat dengan 13 cara yang berbeda hanya karena operasi perusahaan dibagi menjadi 13 area? Bukankah ini termasuk pemborosan uang dan waktu? Pelanggan menjadi tidak nyaman. Belum lagi kekecewaan pihak eksekutif terhadap kinerja dari sekitar tiga ribu orang tenaga penjualan.

Untuk mengatasinya, disiapkanlah call center guna menerima pesanan dari toko ritel. Tujuannya agar tenaga penjualan dapat fokus pada tugas penjualan mereka. Namun, masalah belum berakhir. Keluhan dari pelanggan masih terus mengalir. Padahal, acap kali kesalahan terjadi pada saat penggunaan cat, bukan karena mutu cat itu sendiri. Guna mengatasi masalah ini, Asian Paints memperkenalkan sebuah model bisnis yang meniru jasa angkutan daring, seperti Uber dan Grab. Pada saat yang sama, aneka inovasi tambahan terus ditelurkan. Inovasi ini dilakukan setelah mendengarkan saran dari karyawan yang sebenarnya justru merasa puas dengan pencapaian Asian Paints.

Asian Paints bisa menjadi contoh perusahaan yang tidak terjebak euforia dan terlena dengan pencapaian yang ditorehkannya. Menjadi perusahaan cat terbesar di negara berpenduduk 1,324 miliar jiwa dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia (7,2% pada 2017 lalu) tentu membanggakan. Namun, Asian Paints yakin bahwa di balik sederet kemajuan yang dicapai, selalu ada ruang untuk perbaikan dan peluang untuk pertumbuhan. Dengan kata lain, perusahaan seyogianya tidak terlalu cepat berpuas diri atas prestasinya. Namun, bukan berarti perusahaan mesti mencari-cari kesalahan, apalagi mencari kambing hitam sehingga lupa menghargai kerja keras karyawannya. Jika terlalu cepat berpuas diri, yang bakal terjadi adalah arogansi, ketidakmauan untuk belajar, dan ketidakpekaan terhadap perubahan. ika terus berlangsung, hal paling tragis siap menyongsong: kebangkrutan. Atau paling tidak, nama produk hilang dari peredaran dan dipandang sebelah mata.

Lantas, bagaimana caranya agar perusahaan tidak masuk perangkap euforia dan terlalu cepat berpuas diri ini? Pertama, cobalah mencari masukan dari karyawan, manajer, atau eksekutif, terutama yang tidak puas dengan hasil yang telah ditorehkan saat ini. Di antara sekian banyak yang puas, pasti ada yang masih merasa kurang. Melalui mereka, boleh jadi tercetus inspirasi pemicu inovasi.

Khusus bagi para eksekutif, rajin-rajinlah turun ke bawah. Sebagai gambaran, saat Charles Revson berjuang membangun Revlon menjadi perusahaan raksasa kosmetik, ia sengaja mengalokasikan waktunya untuk ikut menjawab keluhan pelanggan melalui telepon. Tentu ini bukan berarti pemimpin perusahaan harus selalu berbuat demikian. Sebab, ia harus fokus pada tugas utamanya, yakni membuat keputusan strategis. Hal ini hanyalah ilustrasi bahwa eksekutif wajib memahami yang sebenarnya terjadi di bawah permukaan, tidak hanya berkutat pada laporan dan angka-angka. Di lapangan, pemimpin kerap berhadapan dengan realitas yang selama ini tidak terpantau. Mereka mungkin kurang menangkap yang tersirat di balik yang tersurat.

Lantas, apakah kita tidak boleh bergembira dan merayakan kesuksesan? Tentu tidak demikian. Kegembiraan dan perayaan penting dilakukan untuk menghargai kerja keras kita dan menanamkan rasa kebanggaan. Namun, jangan terlalu lama. Selanjutnya, ajukanlah pertanyaan, “Setelah ini, kita mau apa?” Dari sinilah perusahaan sudah harus bersiap-siap menapaki langkah-langkah selanjutnya.

*) Penulis adalah salah satu Master Consultant di The Jakarta Consulting Group