• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Ruh Transformasi Digital

SINDOWEEKLY

Himawan Wijanarko*)

Asian Paints Limited adalah sebuah perusahaan multinasional yang bermarkas di Mumbai, India. Perusahaan ini bergerak dalam bidang produksi, penjualan, dan distribusi cat, pelapis (coating), dekorasi rumah, dan perlengkapan kamar mandi. Asian Paints telah menjadi perusahaan cat terbesar di India dan terbesar keempat di Asia. Pada tahun 2015, perusahaan yang didirikan tahun 1942 ini menguasai 51,4 persen pangsa pasar cat di India.

Awalnya, Asian Paints hanya beroperasi di 13 negara bagian di India. Saat ini, perusahaan yang didirikan oleh 4 orang teman ini telah hadir di 17 negara.  Yang menarik, kemajuan perusahaan ini bukanlah atas berkat pemanfaatan teknologi mutakhir semata-mata. Memang perusahaan ini memanfaatkan alat-alat semisal perangkat lunak Enterprise Resource Planning (ERP), call center, aplikasi telepon genggam dan tablet, mesin pembelajaran, dan fasilitas perakitan otomatis. Namun kesemuanya itu akan sia-sia tanpa ditunjang kepemimpinan andal, yang rajin mencari peluang-peluang baru.

Pesatnya perkembangan teknologi mengharuskan pelaku bisnis untuk menyesuaikan diri. Meski demikian, perusahaan-perusahaan berkelas dunia tak akan semata-mata mengandalkan teknologi. Mereka tidak akan larut terjebak dalam transformasi digital, yang saat ini seolah-olah menjadi “mantra”. Sekali lagi ini bukan berarti mereka menolak gelombang besar tersebut, melainkan tidak menelannya mentah-mentah.

Misalnya DBS. Bank asal Singapura ini memanfaatkan teknologi yang disebut Chatbots. Ini adalah perangkat lunak pengaktif suara yang memungkinkan layanan pelanggan menjadi lebih efisien.  Perangkat lunak ini sebenarnya juga telah dipakai di banyak perusahaan. Namun DBS melakukan sesuatu yang sedikit berbeda. Setelah sukses memperbaiki proses, profitabilitas, dan kepuasan pelanggan di Singapura yang terkenal berbiaya tinggi, DBS mengalihkan fokus ke pasar menengah bawah (low cost market). DBS memasuki pasar India dengan menawarkan model perbankan berbasis telepon genggam yang tidak mensyaratkan intervensi manusia. Model ini bisa menghasilkan uang melalui rekening bernominal kecil, yang enggan dimasuki oleh bank lain lantaran dianggap kurang menguntungkan. Chatbots memang bisa menurunkan biaya di saluran-saluran yang sudah mapan. Namun, DBS mengembangkan model bagi pasar menengah bawah. Hal ini dibarengi dengan penciptaan organisasi yang kuat.

Asian Paints dan DBS mengajarkan kepada kita bahwa faktor utama penentu kesuksesan sebuah transformasi bukanlah teknologi, termasuk teknologi digital. Merujuk kepada istilah transformasi digital, selama ini banyak perusahaan hanya berfokus pada digital, bukan transformasinya.

Jika berbicara tentang transformasi, yang paling utama tentulah manajemen perubahan. The Lo & Behold Group, sebuah jaringan restoran asal Singapura mencontohkan hal ini. Perusahaan ini mulai melakukan transformasi terhadap proses bisnisnya sekitar lima tahun yang lalu, dengan menjadi yang pertama menerapkan sistem Ipad untuk pemesanan makanan. Hasilnya, saat ini para staf perusahaan mampu sepenuhnya berfokus pada keterlibatan yang lebih erat dengan pelanggan dan penyediaan layanan yang berkualitas. Namun, perlu perjuangan untuk mencapai hal ini. Menurut Merle Chen, Chief Talent Officer The Lo & Behold Group, ternyata yang membutuhkan waktu lama adalah manajemen perubahan. Para staf harus terlebih dahulu diberi pembekalan sebelum mampu mengerjakan tugas-tugasnya. Kebiasaan lama susah matinya. Mengikis kebiasaan lama dan menggati dengan kebiasaan baru inilah yang  membutuhakn waktu.

Berikutnya adalah budaya. Budayalah yang memberi sense of purpose kepada karyawan, sekaligus menjadi pendorong inovasi dan perubahan. Budaya ini harus dimulai dari jajaran eksekutif puncak perusahaan.

Agar transformasi sukses, tentunya diperlukan kepemimpinan dengan visi transformatif, mampu menggerakkan orang lain, dan memimpin dengan efektif.  Berikutnya , sang pemimpin harus paham bahwa transformasi adalah tugas berat yang wajib melibatkan semua pihak, bukan hanya unit atau figur tertentu.

*) Penulis adalah salah satu Master Consultant di The Jakarta Consulting Group