• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Si Peniup Peluit

SINDO WEEKLY
Himawan Wijanarko*

BEBERAPA waktu lalu, Martin Tripp, mantan karyawan Tesla, “bernyanyi” kepada wartawan bahwa dirinya tidak bermaksud merusak sistem internal Tesla. Ia memandang dirinya sebagai whistleblower setelah melihat sesuatu yang “sungguh mengerikan” di produsen mobil listrik dan energi yang berkantor pusat di Palo Alto, California itu. Tripp juga mengatakan bahwa ia khawatir dengan kebocoran baterai yang terjadi pada ratusan mobil Model 3S—yang bisa membahayakan kesehatan dan keselamatan.

Saat ini, teknisi yang bergabung pada Oktober tahun lalu itu sedang mencari pengacara serta meminta perlindungan sebagai pelapor pelanggaran. Ia mengatakan bahwa dirinya diinterogasi di tempat kerjanya serta kemudian dipecat oleh perwakilan sumber daya manusia Tesla.

Tesla tak mau kalah. Perusahaan ini mengajukan tuntutan pada Tripp lantaran dianggap telah mencuri data dalam jumlah besar terkait dengan sistem perakitan perusahaan serta mengemukakan pernyataan bohong kepada media. Termasuk pernyataan Tripp bahwa Tesla menggunakan baterai yang telah rusak pada Model 3S-nya.

Tesla menuduhnya telah meretas sistem komputer serta mencuri rahasia perusahaan. Namun, ia membantah. Ia merasa tak punya kemampuan melakukan hal semacam itu. Tripp menyangkal semua tuduhan para pengacara Tesla. Ia bukan kecewa lantaran tidak mendapatkan promosi jabatan. Menurutnya, hal itu hanyalah alasan yang dicari-cari.

Penasihat hukum Tesla juga menggambarkan Tripp sebagai pribadi yang suka mengganggu dan merusak suasana kerja rekannya. Akibatnya, Tesla harus mengalami “kesulitan yang tak semestinya”, kehilangan keuntungan, bisnis, dan reputasi.

Dalam wawancara dengan Washington Post, Tripp mengungkapkan kekecewaannya terhadap Tesla. Padahal, ia telah meninggalkan pekerjaan lamanya di perusahaan produsen alat-alat medis. Ia pun telah memboyong keluarganya untuk pindah ke Nevada demi meraih “peluang emas”. Namun, ia kemudian kecewa terhadap apa yang ia sebut limbah perusahaan serta praktik bisnis yang membahayakan lingkungan.

Saat ditanya motifnya mengungkap “borok” di Tesla, Tripp mengatakan dirinya ingin memperingatkan publik tentang potensi bahaya mobil Tesla, serta terhadap CEO Elon Musk, yang ia sebut “narsis” dan “hanya mementingkan diri sendiri”.

Bagaimana akhir kisah ini? Masih harus kita nantikan. Termasuk pengungkapan fakta yang akurat dan lengkap mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas, orang-orang semacam Tripp kerap dijumpai, meski adakalanya (tidak selalu) mereka juga memiliki kepentingan serta tingkat objektivitas yang beragam dibalik laporan mereka. Namun, perusahaan seyogianya tidak buru-buru bersikap apriori terhadap whistleblower ini. Pun, jangan buru-buru menganggap mereka tidak loyal dan ingin merongrong kewibawaan perusahaan. Sebaiknya, menjadikan ini sebagai peluang untuk pembelajaran dan penanganan situasi yang berpotensi membahayakan kelangsungan bisnis.

 Selama ini, whistleblower cenderung berkonotasi kurang menyenangkan karena kerap identik dengan ancaman, tuntutan hukum, dan sebagainya. Kondisi ini bisa dicegah dan justru dimanfaatkan untuk menegakkan integritas dan menjaga berjalannya good corporate governanceWhistleblower telah dijadikan sebuah sistem untuk mengendus penyimpangan dan sebagai peringatan dini yang saat ini getol dibudayakan. Dengan demikian, penyimpangan sekecil apa pun lebih mudah terdeteksi.

Bagaimana jika whistleblower telah bersuara? Tentunya perusahaan harus menunjukkan kebijaksanaannya. Isu yang telanjur keluar harus ditangani secara independen, misalnya dengan membentuk tim dari luar perusahaan. Perusahaan jangan hanya mendengarkan namun harus bertindak. Orang-orang yang berbuat jahat harus ditindak. Pun, disusun mekanisme agar perbuatan-perbuatan tercela tidak lagi dilakukan di masa dating.

Si peniup peluit justru didorong kehadiran oleh organisasi, dilindungi dengan sistem, dan tentu saja dengan mekanisme untuk menguji kebenarannya. Satu yang terpenting adalah fungsinya sebagai peringatan dini agar “kebusukan” yang terendus segera dilokalisasi agar tidak menjadi penyakit organisasi, apalagi menyebarkan bau busuk ke ranah publik yang mengoyak reputasi organisasi.

*) Penulis adalah salah satu Master Consultant di The Jakarta Consulting Group