• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Gegar Digital

SINDOWEEKLY
Himawan Wijanarko*

Ribut-ribut soal taksi dan ojek pangkalan yang merasa tersingkir oleh taksi online dan ojek online, adalah fenomena gegar digital (digital shock). Terkejut dan marah. Mungkin juga merasa tidak berdaya dan khawatir tentang masa depan.  

Agar tak mengalamai gegar digital, raksasa sepatu ini mempersiapkan diri. Nike+Accelerator, sebuah program yang dirintis Nike, membuka kesempatan bagi perusahaan rintisan (startups) terpilih untuk mengembangkan produk yang akan dijual Nike pada Nike+ dan platform NikeFuel.  Perusahaan terpilih ini akan mendapatkan dukungan dan akses terhadap alat-alat pengembangan, fasilitas kantor, dan platform teknis milik Nike. Bukan itu saja. Nike juga menjamin akses terhadap para eksekutif dan mentor eksternalnya bagi bisnis rintisan ini  Inilah cara Nike mencari talenta terbaik yang akan membantu mengembangkan produk perusahaan yang terkenal dengan slogan Just Do It itu, sekaligus menyambut datangnya era digital.

Usaha Nike tidak berhenti sampai di situ. Nike mempekerjakan beberapa staf perekrut dari Apple. Mereka ditugaskan merekrut personel-personel toko yang paham dan mampu memberikan pengalaman toko ritel masa depan, era digital.

Lain lagi yang dilakukan Walmart. Raksasa ritel asal AS ini sengaja membuka cabang di kawasan San Bruno, Kalifornia. Tujuannya adalah agar lebih mudah memikat orang-orang yang bekerja di perusahaan kenamaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti Google, Facebook,  Apple dan Amazon.

Ada juga perusahaan yang sengaja menarik seorang eksekutif, yang ditugaskan untuk menangani hal-hal terkait dengan era digital. L’oreal adalah contohnya. Perusahaan kosmetik asal Perancis ini merekrut seorang eksekutif dari Instagram untuk menjabat sebagai Chief Digital Officer.

Di era digital ini, tantangan yang dihadapi para pelaku bisnis semakin terjal. Merekan bersiap agar tidak terkena imbas gegar digital (digital shock). Saat sumber daya semakin sulit didapat  dan kompetisi semakin intens, di saat yang sama mereka tak boleh berhenti mengembangkan kapabilitasnya agar segala aktivitas, sumber daya manusia (SDM), budaya, dan struktur organisasi perusahaan tetap selaras dengan tujuan perusahaan.

Salah satu isu yang paling kritis adalah mencari orang-orang terbaik.  Banyak perusahaan yang kewalahan dalam hal ini. Hasil riset yang dilakukan oleh MIT menunjukkan bahwa ketidakmampuan merekrut dan mempertahankan bakat-bakat terbaik menjadi ancaman paling serius terhadap masa depan perusahaan. Sayangnya, ancaman ini sering tidak diindahkan. Kurang dari setengahnya yang berinvestasi demi meningkatkan keterampilan digital karyawan. Lebih tragis lagi, kurang dari 5 persen yang mengaitkan program-program pelatihan mereka dengan strategi digital perusahaan.

Maka tak heran bila perusahaan-perusahaan yang sadar akan pentingnya berbenah di era digital saling berlomba-lomba mendapatkan talenta-talenta terbaik. Caranya bermacam-macam. Bisa “meminjam tangan” perusahaan lain  seperti yang dilakukan Nike, dengan program Nike+ Accelerator-nya; merekrut professional dari perusahaan-perusahan berbasis TIK yang sudah makan (Walmart); atau pun mrekrut seseorang yang khusus menangani soal-soal digital (L’oreal).

Bagaimanapun, era digital telah datang. Perusahaan-perusahaan boleh saja saling bersaing guna menarik minat orang-orang kompeten dari luar demi digitalisasi. Namun seyogianya strategi ini tidak menjadi andalan utama. Strategi terbaik dalam jangka panjang tetaplah menumbuhkembangkan talenta-talenta digital dari kalangan internal perusahaan sendiri. Perlu disediakan peluang bagi karyawan untuk tumbuh secara digital, Hal ini dapat dicapai bukan saja melalui pelatihan teknis melainkan juga pengalaman yang beragam serta dukungan pengembangan karier.

Senantiasa berusaha agar karyawan kerasan adalah ciri sebuah perusahaan yang telah matang secara digital. Oleh karenanya, keterlibatan karyawan menjadi penting. Mereka harus merasa bahwa perusahaan memang serius berkorban bagi karyawan dan tersedia peluang-peluang bagi pertumbuhan. 3M, konglomerat asal AS, tak segan-segan berinvestasi dalam jumlah besar demi membangu kesetiaan karyawannya. Menurut Inge Thulin, Direktur Utama 3M, mengungkapkan bahwa perusahaan yang dipimpinnya berencana mengikutsertakan semua karyawannya dalam perluasan program pengembangan karyawan hingga tahun 2025.

Nah apakah  perusahaan di Indonesia sudak pasang kuda-kuda agar kalis dari gegar digital?

 

*Penulis buku Organization Culture and Corporate Culture & Master Consultant di The Jakarta Consulting Group.