• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Terlena Kejayaan, Tubir Kehancuran

SINDO WEEKLY

Himawan Wijanarko*

Belum lama ini, Deutsche Bank telah menunjuk Christian Sewing sebagai Direktur Utama. Ia menggantikan John Cryan, pria berkebangsaan Inggris yang belum genap menjabat tiga tahun sebagai Direktur Utama. Sewing diharapkan bisa mengakhiri kerugian finansial yang dialami Deutsche Bank selama tiga tahun belakangan ini, berikut mengangkat bank yang berkantor pusat di Frankfurt itu dari keterpurukan reputasi. Tahun lalu, bank mengalami kerugian sebesar 903 Dollar AS.

Semasa kepemimpinannya, Cryan bukannya tanpa pencapaian. Ia merombak manajemen dan memperkenalkan strategi baru. Meski demikian, Cryan harus menghadapi dampak negatif akibat kasus hukum yang menimpa bank. Akhir 2016, bank menghadapi denda sebesar US$14 miliar. Angka itu cukup besar untuk bisa memorakporandakan perusahaan.

Bahkan, sempat beredar rumor bahwa Pemerintah Jerman akan menyediakan dana talangan (bail out) untuk menyelamatkan Deutsche Bank. Berkat Cryan, skenario mengerikan ini urung terjadi.

Cryan meminta semua pihak bersabar. Baginya, butuh waktu untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Namun, bila membandingkan nasib Deutsche Bank dengan nasib bank-bank lain yang juga terkena denda, kemajuan Deutsche Bank sangatlah pelan. Saat bank-bank asal Amerika Serikat (AS) mulai pulih, Deutsche Bank masih terkulai. Harapan agar Deutsche Bank kembali diperhitungkan perlahan sirna.

Banyak pemegang saham yang skeptis terhadap Sewing. Namun, Ketua Dewan Pengawas Deutsche Bank Paul Achleitner agaknya mengisyaratkan keinginan perubahan strategi. Ia ingin Deutsche Bank lebih memfokuskan perannya sebagai bank tradisional ketimbang bank investasi.

Ini pun bukan hal mudah. Deutsche Bank sendiri harus bersaing dengan kurang lebih 1.600 kantor berbagai bank, baik dari dalam maupun luar Jerman. Kesemuanya berlomba-lomba membiayai usaha kecil dan menengah (di Jerman dikenal dengan istilah “Mittelstand”) yang menjadi tulang punggung negara dengan perekonomian terbesar di Eropa itu. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan raksasa lebih memilih menggunakan jasa bank lain, termasuk untuk merger dan akuisisi.

Deutsche Bank yang dulu menjadi ikon bisnis Jerman kini hanya dianggap sebagai pemain medioker. Hal ini ternyata menimpa banyak perusahaan. Meski namanya masih populer dan belum sampai gulung tikar (atau diambil alih kepemilikannya), namanya tak lagi disegani seperti sebelumnya. Namanya tak lagi membuat pesaing gentar.

Mengapa perusahaan-perusahaan yang tadinya unggul bisa turun kelas prestasinya tak lagi berkilau? Faktor utama adalah kepemimpinan. Perusahaan tak lagi punya pemimpin yang tangguh, visioner, dan pandai membaca arah perkembangan bisnis.

Hal ini kerap bermula dari kesalahan memilih pengganti pemimpin yang telah lama memimpin dan sukses membawa kejayaan perusahaan. Yahoo adalah contohnya. Sepeninggal Jerry Yang, tidak ada yang mampu membawa Yahoo meraih posisi puncak yang pernah disandangnya selama bertahun-tahun.

Faktor lain yang kerap dijumpai adalah rasa nyaman dan puas diri yang berlebihan karena merasa sudah berada di puncak kejayaan. Akibatnya, inovasi dan kreativitas menjadi mandek karena orang tak lagi bersahabat dengan perubahan, bahkan memusuhinya. Mereka menjadi abai terhadap tren baru yang sedang berlaku. Perusahaan lebih suka membangga-banggakan kejayaannya, lalu lupa bahwa kejayaan takkan mungkin berlangsung selamanya.

Tak jarang, demi mempertahankan kejayaannya, perusahaan terlalu berfokus pada keuntungan finansial. Tentu semua bisnis ingin meraihnya. Kendati demikian, tidak jarang yang melakukannya dengan segala cara, termasuk memotong biaya investasi untuk pengembangan. Padahal, keduanya penting dalam jangka panjang. Meski demikian, untuk jangka pendek, keuntungan finansial boleh jadi berkurang.

Rusaknya reputasi akibat perbuatan tercela bisa menjadi awal turun kelasnya perusahaan, apalagi bila oknum-oknum yang terlibat di dalamnya tidak diberi sanksi tegas. Kepercayaan para pemangku kepentingan menjadi longsor. Kalau pun perusahaan masih bisa bertahan, persepsi dan ekspektasi para pemangku kepentingan tidak lagi positif seperti sebelumnya.

*) Penulis adalah salah satu Master Consultant di The Jakarta Consulting Group